Rumah Kompos, Rumah Idaman bagi Pemulung, Pak Sampah dan Warga


Rumah Idaman. Siapa yang tidak ingin punya rumah idaman? Tetapi rumah idaman yang dimaksud di sini adalah rumah kompos. Lho, lho, lho. Rumah kompos, apa maksudnya? Maksudnya rumah untuk membuat kompos. Rumah ini biasanya dibangun di lingkungan perumahan (komplek) atau lingkungan RT atau RW. Bagaimana bentuknya dan cara kerjanya silakan baca uraian di bawah ini.

Rumah kompos bisa dibangun dari yang paling sederhana, sampai yang paling indah, tergantung berapa besar anggaran yang dimiliki oleh swadaya warga setempat. Jika kesadarannya tinggi, maka bisa saja terkumpul sampai banyak sehingga bahan material yang digunakan pun disesuaikan dengan dana yang ada. Rumah kompos harus ada dinding untuk mencegah tiupan angin kencang dan tampiasan air hujan. Juga harus ada atap untuk mencegah sinar matahari secara langsung dan guyuran air hujan dari atas. Namun tetap harus ada ventilasi, agar ada sirkulasi udara mengingat proses pengomposan dilakukan sistim aerob atau sistim aliran terbuka (open windrows).

Rumah Kompos Sederhana

Prinsip rumah kompos adalah menampung sampah organik yang telah dipisahkan dari sampah non organik dan dikirim oleh Pak Sampah yang mengambil sampah organik dari setiap rumah di lingkungan setempat. Sampah ini di rumah kompos ditumpuk menjadi satu tumpukan. Setelah 2 hari, maka tumpukan ini digeser ke tempat tumpukan kedua. Tempat tumpukan pertama diisi oleh sampah baru yang dikirim oleh Pak Sampah hari itu. Begitu seterusnya sampai ada tujuh tumpukan, artinya sampah tumpukan pertama sudah berusia 14 hari di rumah kompos. Pada setiap tumpukan akan terjadi proses pengomposan sampah organik, karena adanya jutaan bakteri probiotik yang ada di dalam sampah organik. Untuk lebih meningkatkan kualitas dan mempercepat proses pengomposan bisa saja ditambahkan bakteri bio aktivator buatan ke tumpukan sampah organik. Pada saat terjadi proses pengomposan suhu sampah akan naik sampai 60 atau 70 derajat Celcius. Warna dari sampah semakin lama semakin hitam dan tidak berbau busuk. Sampah yang tadinya berukuran besar akan rapuh dan hancur.

Tumpukan ke tujuh sudah dapat dikategorikan sebagai pra kompos, namun harus dibiarkan dahulu di tempat terpisah selama 14 hari, agar suhu kompos menjadi suhu ruangan. Pada suhu ini semua bakteri akan tidak berfungsi, artinya aman untuk digunakan sebagai pupuk tanaman. Jika dalam kondisi suhu tinggi diberikan ke tanaman, maka bakteri akan memakan dan merusak tanaman tersebut. Tentunya ini hal yang tidak kita inginkan. Ingat, kompos yang dihasilkan memang tidak terlalu tinggi nilai ekonomisnya, namun kualitasnya sangat baik, karena menggunakan bahan baku yang bagus yaitu dari sisa makanan segar, seperti sisa sayuran, sisa buah, sisa ikan, tulang ayam dan sebagainya. Sebelum digunakan, hendaknya kompos diayak terlebih dahulu. Agar bagus tampilannya dan punya nilai ekonomis, maka dikemas di dalam kantong plastik dan diberi label “Kompos Super”.

Tumpukan Sampah dalam Proses Pengomposan

Bagaimana? Apakah penjelasan ini bisa bermanfaat? Sudah banyak yang menerapkan metoda ini, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Karawang, Tangerang, Bekasi, Depok. Silakan anda bersilaturahmi dengan warga satu lingkungan untuk mencoba menjalankan konsep membuat rumah kompos ini. Apa manfaatnya bagi pemulung? Sampah non organik dari warga yang sudah dipisahkan, ditempatkan di luar rumah kompos. Bagi pemulung akan sangat senang mengambil sampah plastik, botol, kaleng dan sebagainya yang sudah tidak tercampur dengan sampah organik yang biasanya berbau busuk, menjijikkan dan sumber penyakit. Lalu bagaimana dengan Pak Sampah? Jika memang dia memiliki banyak waktu, maka mengurusi sampak organik di rumah kompos adalah tambahan pekerjan yang pastinya akan ada nilai tambah bagi dirinya, karena akan menghasilkan pupuk organik yang berkualitas tinggi dan gratis. Di sekeliling rumah kompos bisa ditanami tanaman hias dan pohon buah-buahan yang diberi pupuk organik ini. Hasilnya wargalah yang menikmati. Selain keindahan lingkungan, tidak ada lagi sampah menumpuk berceceran dan berbau busuk, apalagi bisa memperoleh pupuk organik murah dan bibit tanaman murah. Inilah yang disebut moteda pengomposan berbasis komunitas.

Wow, betul-betul rumah kompos menjadi idaman bagi semua. Semoga.

Iklan
By bersihdiriblogger

Di Musik Ada K-Pop di Lingkungan Ada T-Pop


Bingung baca judul di atas? Ya kan saat ini di musik sedang  ngetren boyband dan girlband yang mengikuti jejak saudara kita di Korea, maka disebutnya K-Pop. Nah di bidang lingkungan kita juga ada panutannya yaitu saudara kita dari Jepang namanya Mr. Koji Takakura atau biasa dipanggil Mr. Takakura saja. Mr.Takakura menciptakan alat untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos menggunakan wadah berupa keranjang. Metoda ini lantas dipatenkan dan dipopulerkan dengan nama Keranjang Takakura, makanya saya sebut istilahnya T-Pop atau Takakura Populer. Lho kenapa harus dipopulerkan? Ya karena sudah sejak tahun 2005 metoda ini ada di Indonesia, namun meski jaman sudah super canggih masih banyak orang yang belum tahu.

Keranjang ini akan berfungsi, jika kita telah melakukan pemilahan sampah sejak dini mulai pada saat kita menghasilkan sampah makanan, baik sisa nasi, sayuran, buah-buahan, ikan, daging, kulit telur dan sebagainya. Kegiatan ini akan sangat menarik bagi si kecil yang sedang haus ilmu mulai dari usia 4 tahun. Jika si kecil saja sudah terbiasa, apalagi anak yang sudah besar, mereka akan memahami manfaatnya dan akan memberi tahu kepada rekan-rekannya.

Karena masih banyak yang belum tahu, maka saya dongengin ya.

Keranjang Takakura merupakan alat pengomposan skala rumah tangga yang ditemukan Pusdakota bersama Pemerintah Kota Surabaya, Kitakyusu International Techno-cooperative Association dan Pemerintahan Kitakyusu Jepang pada tahun 2005. Keranjang ini dirakit dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita yang mampu mempercepat proses pembuatan kompos.

Satu keranjang standar dengan starter 8 kg dipakai oleh keluarga dengan jumlah total anggota keluarga sebanyak 7 orang. Sampah rumah tangga yang diolah di keranjang ini maksimal 1,5 kg per hari.

Cara Membuat Keranjang Takakura

Bahan Utama :

1.     Inokulan

2.     Keranjang

Bahan pembuat inokulan :

1.     15 takar sekam

2.     5 takar tanah

3.     5 takar dedak

4.     1 takar pupuk daun

5.     1 takar pupk kandang

6.     ¼ takar gula

7.     Air secukupnya

Campurkan semua bahan tersebut dimulai dari sekam, dedak dan dilanjutkan dengan tanah, pupuk daun dan pupuk kandang. Di tempat terpisah campurkan gula dengan air. Kemudian masukkan air perlahan ke dalam campuran tanah, aduk hingga rata. Kepal campuran tanah dengan tangan anda, jika campuran meneteskan air campuran melebihi batas kelembaban dan sebaliknya. Masukkan bahan inokulan ke dalam karung plastik. Tutup karung dan simpan di dalam tempat yang teduh dan tertutup, hindari dari cahaya matahari. Setelah seminggu diperam inokulan siap digunakan.

Perlengkapan Keranjang Takakura

Siapkan keranjang, masukkan kardus ke dalam keranjang sesuai ukuran. Letakkan satu set bantal sekam ke dalam keranjang kemudian masukkan inokulan ke dalam keranjang ¾ bagian, tutup dengan bantal sekam kedua berikutnya tutup keranjang dengan kain sebelum ditutup dengan plastik. Keranjang Takakura siap digunakan. Gali lubang di tengah media dengan menggunakan sekop, kemudian masukkan sampah organik yang telah dipotong kecil-kecil kemudian timbun dengan media.

Bagaimana sudah jelas atau makin bingung? Supaya tidak bingung, pesan saja yang sudah jadi di Pusdakota dengan alamat :

Jl. Rungkut Lor III No. 87, Surabaya

Telpon : (031) 8474325

Contact person : Mas Cahyo Suryanto

Harganya? Dua tahun lalu masih Rp. 100.000,-

Selamat ber”Takakura”ria dan meneriakkan yel-yel “T-Pop”, “T-Pop”!

 

By bersihdiriblogger