Panasnya Efek Rumah Kaca Kalah oleh Semangat Ibu-ibu Karawang


Luar biasa!!! Hanya itu yang dapat terucap olehku saat melihat ibu-ibu yang mengikuti kegiatan “Pelatihan Pengolahan Sampah Terpadu Metode Takakura di RW 18 Kelurahan Sukaluyu Kecamatan Teluk Jambe Timur hari Sabtu tanggal 18 Pebruari lalu. Ya luar biasa, karena mereka setia dari mulai pukul 9.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB mengikuti pelatihan tersebut, meskipun cuaca sangat panas akibat efek rumah kaca sangat terasa di sana. Tenda yang ada tidak mampu menahan kering dan panasnya udara di sana.

Kegiatan pelatihan ini diprakarsai oleh kerja sama antara sebuah LSM lingkungan hidup dan sebuah ormas setempat yang memang sangat peduli terhadap kondisi lingkungan, khususnya di perumnas Teluk Jambe Timur. Permasalahan sampah di sana sudah hampir sama dengan di kota besar, bahkan dampak yang dirasakan lebih mengkhawatirkan. Menurut wakil dari Kelurahan, air tanah di lokasi itu baru didapat pada kedalaman lebih dari 200 meter. Kok bisa ya? Ya, karena di sekitar kelurahan itu sangat banyak terdapat pabrik dan industri yang tentunya untuk proses produksinya membutuhkan air tanah dalam jumlah besar yang disedot menggunakan pompa-pompa berkapasitas besar pula.

Suatu kondisi yang luar biasa. Sudah tanahnya semakin kering karena jarang hujan dan air tanah langka, air sungai pun tercemar oleh limbah buangan pabrik maupun sampah dari perumahan, udaranya panas dan kering karena kurangnya penghijauan, akibat luasnya lahan yang beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan. Pantas saja para aparat baik dari Kabupaten dan Kelurahan, serta jajaran di bawahnya dibuat kebingungan. Untunglah masih ada orang-orang yang peduli terhadap masalah mereka. Meskipun gerakan yang dilakukan baru sekedar mengajarkan warga bagaimana cara mengolah sampah rumah tangga agar bisa menjadi kompos dengan bantuan Keranjang Takakura, namun paling tidak kegiatan ini akan mulai menyadarkan baik warga maupun aparat setempat akan pentingnya melakukan aksi nyata untuk memperbaiki kondisi lingkungan hidup sesuai amanat UUD 1945 dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lebih baik berbuat sesuatu yang kecil tapi eksis dan konsisten dari pada hanya berani bicara di forum tanpa aksi apa pun.

Jadi siapa yang paling luar biasa? Yang paling luar biasa sudah pasti Allah SWT Sang Pencipta Alam ini. Dia menciptakan segala sesuatu berpasangan, ada dan tiada, baik dan buruk, subur dan gersang dan sebagainya. Dengan adanya permasalahan sampah, adanya musibah alam, adanya dampak yang dirasakan oleh manusia, maka tergeraklah hari para manusia LSM dan ormas untuk menggerakkan hati sekitar 30an orang ibu-ibu dan segelintir bapak-bapak untuk belajar bagaimana menata alam ini dimulai dari mengolah efek samping dari kegiatan kita sendiri, yaitu sampah. Jadilah mereka orang-orang yang luar biasa. Apakah anda juga ingin menjadi manusia luar biasa?

Iklan
By bersihdiriblogger

Indahnya Alamku Tak Seindah Perjalananku


Beberapa hari lalu aku baru saja pulang dari suatu desa di Kabupaten Jembrana, Bali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan menggunakan transportasi umum aku melihat alam yang indah mulai dari persawahan, pegunungan, hutan, perkebunan, pantai, tambak ikan dan udang. Sarana transportasinya karena menggunakan yang ekonomi, totalnya kalau dijumlah sampai ke rumah, 5 kali ganti bus besar, 2 kali bus sedang, 1 kali feri, 2 kali mikrolet dan 5 kali ojek motor dengan total lama perjalanan 38,5 jam, termasuk 2 kali istirahat makan.

Sangat terasa melelahkan. Yang membuat lamanya perjalanan adalah adanya beberapa titik kemacetan, baik di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat melalui jalur pantura. Punggung dan bokong begitu terasa pegalnya mengingat jarak antar kursi yang sempit, sehingga kaki harus ditekuk selama perjalanan, kecuali jika penumpang di sampingku pas kosong kaki bisa sebentar diselonjorkan. Yang bisa sedikit menghiburku ya hanya keindahan alam tadi. Di situlah aku sangat bersyukur bahwa aku dilahirkan di negeri yang indah dan subur. Meskipun memang saat ini di musim hujan, beberapa daerah mengalami musibah banjir dan naiknya gelombang air laut.

Yang perlu kita bahas adalah masih banyaknya orang kita yang belum mensyukuri nikmat Tuhan ini. Ada kota yang memang semboyan kebersihannya tidak hanya slogan, namun memang diterapkan setiap saat. Terlihat dari pada saat aku lewat di sebuah pasar di Situbondo, tidak terlihat sampah menumpuk dan berceceran di pinggir jalan, meskipun saat ini sedang jam-jam sibuk aktifitas masyarakat. Berbeda dengan di daerah lain di Jawa Barat, meskipun sudah ada slogan berupa papan iklan tentang gambar-gambar tempat sampah organik dan non organik, tetapi tetap saja terlihat di sana sini sampah berceceran di pinggir jalan, terutama di sekitar pasar yang dilewati.

Pada saat melewati daerah sebelum Semarang, di situ ada kali yang panjang dan posisinya pas di pinggir jalan raya. Terlihat di pagi itu banyak warga setempat, baik dewasa maupun anak-anak yang memanfaatkan air kali itu untuk mandi dan mencuci pakaian, padahal air kali itu dari jauh saja terlihat berwarna keruh dan sangat tidak terawat, karena banyak ditumbuhi rumput liar. Pemandangan ini sudah pernah aku lihat 40 tahun yang lalu pada saat aku tinggal bersama orang tuaku di Semarang. Eh, ternyata sekarang masih saja terjadi. Apakah ini bukan berarti pembiaran kebiasaan jelek? Kebetulan saat itu melewati suatu kantor Kecamatan di lokasi itu. Masya Allah, aku benar-benar heran kok masih ada kantor sekelas Kecamatan yang penampilannya seperti itu. Tidak lebih baik dari penampilan sebuah SD setempat. Sudah lokasinya lebih rendah dari jalan raya dan kali, lapangannya becek, bangunannya sangat tidak representatif. Pada pagi itu hanya terlihat 1 buah mobil yang diparkir di samping gedung kantor itu.

Aku bukannya berprasangka jelek, namun jika melihat kantor aparatnya setingkat Kecamatan seperti itu, bagaimana mereka mau memikirkan masalah-masalah di masyarakat, termasuk soal pemeliharaan lingkungan alam dan kesehatan masyarakat. Setelah melalui kantor tersebut, berjejerlah gedung-gedung pabrik dan berbagai macam industri dengan megahnya di sepanjang jalan itu. Suatu kondisi yang kontras. Aku hanya menyimpulkan sementara, bahwa di situ belum terjain hubungan yang mesra antara pihak aparat, pihak swasta dan masyarakat dalam hal perhatian terhadap permasalahan masyarakat, khususnya dalam hal pelestarian lingkungan tersebut.

Apakah memang tidak ada inisiatif dari orang-orang yang ada di sana? Apakah memang tidak ada permasalahan yang muncul dalam kehidupan mereka? Apakah mereka sudah terhanyut oleh rutinitas kehidupan sehari-hari? Begitu sibuknyakah mereka, sehingga tidak ada kepedulian itu? Apakah tidak ada pejabat dari pusat atau propinsi yang menegur aparat daerah setempat? Kan lokasinya hanya 1 jam dari ibukota propinsi? Seribu “apakah” akan terus mengalir dari benakku gara-gara melihat pemandangan itu.

Benar-benar kasihan alamku ini. Meskipun indah, ternyata orang-orang yang hidup di sekitarnya dan memanfaatkan sumber daya alam tersebut, belum muncul kesadarannya untuk bersyukur. Sambil mengelus dada, aku hanya bisa berucap di dalam hati, wahai alamku bersabarlah, mudah-mudahan mereka segera sadar dan segera menyadari kekeliruannya. Amin ya robbal ‘alamiin.

By bersihdiriblogger