Panasnya Efek Rumah Kaca Kalah oleh Semangat Ibu-ibu Karawang


Luar biasa!!! Hanya itu yang dapat terucap olehku saat melihat ibu-ibu yang mengikuti kegiatan “Pelatihan Pengolahan Sampah Terpadu Metode Takakura di RW 18 Kelurahan Sukaluyu Kecamatan Teluk Jambe Timur hari Sabtu tanggal 18 Pebruari lalu. Ya luar biasa, karena mereka setia dari mulai pukul 9.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB mengikuti pelatihan tersebut, meskipun cuaca sangat panas akibat efek rumah kaca sangat terasa di sana. Tenda yang ada tidak mampu menahan kering dan panasnya udara di sana.

Kegiatan pelatihan ini diprakarsai oleh kerja sama antara sebuah LSM lingkungan hidup dan sebuah ormas setempat yang memang sangat peduli terhadap kondisi lingkungan, khususnya di perumnas Teluk Jambe Timur. Permasalahan sampah di sana sudah hampir sama dengan di kota besar, bahkan dampak yang dirasakan lebih mengkhawatirkan. Menurut wakil dari Kelurahan, air tanah di lokasi itu baru didapat pada kedalaman lebih dari 200 meter. Kok bisa ya? Ya, karena di sekitar kelurahan itu sangat banyak terdapat pabrik dan industri yang tentunya untuk proses produksinya membutuhkan air tanah dalam jumlah besar yang disedot menggunakan pompa-pompa berkapasitas besar pula.

Suatu kondisi yang luar biasa. Sudah tanahnya semakin kering karena jarang hujan dan air tanah langka, air sungai pun tercemar oleh limbah buangan pabrik maupun sampah dari perumahan, udaranya panas dan kering karena kurangnya penghijauan, akibat luasnya lahan yang beralih fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan. Pantas saja para aparat baik dari Kabupaten dan Kelurahan, serta jajaran di bawahnya dibuat kebingungan. Untunglah masih ada orang-orang yang peduli terhadap masalah mereka. Meskipun gerakan yang dilakukan baru sekedar mengajarkan warga bagaimana cara mengolah sampah rumah tangga agar bisa menjadi kompos dengan bantuan Keranjang Takakura, namun paling tidak kegiatan ini akan mulai menyadarkan baik warga maupun aparat setempat akan pentingnya melakukan aksi nyata untuk memperbaiki kondisi lingkungan hidup sesuai amanat UUD 1945 dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lebih baik berbuat sesuatu yang kecil tapi eksis dan konsisten dari pada hanya berani bicara di forum tanpa aksi apa pun.

Jadi siapa yang paling luar biasa? Yang paling luar biasa sudah pasti Allah SWT Sang Pencipta Alam ini. Dia menciptakan segala sesuatu berpasangan, ada dan tiada, baik dan buruk, subur dan gersang dan sebagainya. Dengan adanya permasalahan sampah, adanya musibah alam, adanya dampak yang dirasakan oleh manusia, maka tergeraklah hari para manusia LSM dan ormas untuk menggerakkan hati sekitar 30an orang ibu-ibu dan segelintir bapak-bapak untuk belajar bagaimana menata alam ini dimulai dari mengolah efek samping dari kegiatan kita sendiri, yaitu sampah. Jadilah mereka orang-orang yang luar biasa. Apakah anda juga ingin menjadi manusia luar biasa?

Iklan
By bersihdiriblogger

Indahnya Alamku Tak Seindah Perjalananku


Beberapa hari lalu aku baru saja pulang dari suatu desa di Kabupaten Jembrana, Bali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan menggunakan transportasi umum aku melihat alam yang indah mulai dari persawahan, pegunungan, hutan, perkebunan, pantai, tambak ikan dan udang. Sarana transportasinya karena menggunakan yang ekonomi, totalnya kalau dijumlah sampai ke rumah, 5 kali ganti bus besar, 2 kali bus sedang, 1 kali feri, 2 kali mikrolet dan 5 kali ojek motor dengan total lama perjalanan 38,5 jam, termasuk 2 kali istirahat makan.

Sangat terasa melelahkan. Yang membuat lamanya perjalanan adalah adanya beberapa titik kemacetan, baik di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat melalui jalur pantura. Punggung dan bokong begitu terasa pegalnya mengingat jarak antar kursi yang sempit, sehingga kaki harus ditekuk selama perjalanan, kecuali jika penumpang di sampingku pas kosong kaki bisa sebentar diselonjorkan. Yang bisa sedikit menghiburku ya hanya keindahan alam tadi. Di situlah aku sangat bersyukur bahwa aku dilahirkan di negeri yang indah dan subur. Meskipun memang saat ini di musim hujan, beberapa daerah mengalami musibah banjir dan naiknya gelombang air laut.

Yang perlu kita bahas adalah masih banyaknya orang kita yang belum mensyukuri nikmat Tuhan ini. Ada kota yang memang semboyan kebersihannya tidak hanya slogan, namun memang diterapkan setiap saat. Terlihat dari pada saat aku lewat di sebuah pasar di Situbondo, tidak terlihat sampah menumpuk dan berceceran di pinggir jalan, meskipun saat ini sedang jam-jam sibuk aktifitas masyarakat. Berbeda dengan di daerah lain di Jawa Barat, meskipun sudah ada slogan berupa papan iklan tentang gambar-gambar tempat sampah organik dan non organik, tetapi tetap saja terlihat di sana sini sampah berceceran di pinggir jalan, terutama di sekitar pasar yang dilewati.

Pada saat melewati daerah sebelum Semarang, di situ ada kali yang panjang dan posisinya pas di pinggir jalan raya. Terlihat di pagi itu banyak warga setempat, baik dewasa maupun anak-anak yang memanfaatkan air kali itu untuk mandi dan mencuci pakaian, padahal air kali itu dari jauh saja terlihat berwarna keruh dan sangat tidak terawat, karena banyak ditumbuhi rumput liar. Pemandangan ini sudah pernah aku lihat 40 tahun yang lalu pada saat aku tinggal bersama orang tuaku di Semarang. Eh, ternyata sekarang masih saja terjadi. Apakah ini bukan berarti pembiaran kebiasaan jelek? Kebetulan saat itu melewati suatu kantor Kecamatan di lokasi itu. Masya Allah, aku benar-benar heran kok masih ada kantor sekelas Kecamatan yang penampilannya seperti itu. Tidak lebih baik dari penampilan sebuah SD setempat. Sudah lokasinya lebih rendah dari jalan raya dan kali, lapangannya becek, bangunannya sangat tidak representatif. Pada pagi itu hanya terlihat 1 buah mobil yang diparkir di samping gedung kantor itu.

Aku bukannya berprasangka jelek, namun jika melihat kantor aparatnya setingkat Kecamatan seperti itu, bagaimana mereka mau memikirkan masalah-masalah di masyarakat, termasuk soal pemeliharaan lingkungan alam dan kesehatan masyarakat. Setelah melalui kantor tersebut, berjejerlah gedung-gedung pabrik dan berbagai macam industri dengan megahnya di sepanjang jalan itu. Suatu kondisi yang kontras. Aku hanya menyimpulkan sementara, bahwa di situ belum terjain hubungan yang mesra antara pihak aparat, pihak swasta dan masyarakat dalam hal perhatian terhadap permasalahan masyarakat, khususnya dalam hal pelestarian lingkungan tersebut.

Apakah memang tidak ada inisiatif dari orang-orang yang ada di sana? Apakah memang tidak ada permasalahan yang muncul dalam kehidupan mereka? Apakah mereka sudah terhanyut oleh rutinitas kehidupan sehari-hari? Begitu sibuknyakah mereka, sehingga tidak ada kepedulian itu? Apakah tidak ada pejabat dari pusat atau propinsi yang menegur aparat daerah setempat? Kan lokasinya hanya 1 jam dari ibukota propinsi? Seribu “apakah” akan terus mengalir dari benakku gara-gara melihat pemandangan itu.

Benar-benar kasihan alamku ini. Meskipun indah, ternyata orang-orang yang hidup di sekitarnya dan memanfaatkan sumber daya alam tersebut, belum muncul kesadarannya untuk bersyukur. Sambil mengelus dada, aku hanya bisa berucap di dalam hati, wahai alamku bersabarlah, mudah-mudahan mereka segera sadar dan segera menyadari kekeliruannya. Amin ya robbal ‘alamiin.

By bersihdiriblogger

Rumah Kompos, Rumah Idaman bagi Pemulung, Pak Sampah dan Warga


Rumah Idaman. Siapa yang tidak ingin punya rumah idaman? Tetapi rumah idaman yang dimaksud di sini adalah rumah kompos. Lho, lho, lho. Rumah kompos, apa maksudnya? Maksudnya rumah untuk membuat kompos. Rumah ini biasanya dibangun di lingkungan perumahan (komplek) atau lingkungan RT atau RW. Bagaimana bentuknya dan cara kerjanya silakan baca uraian di bawah ini.

Rumah kompos bisa dibangun dari yang paling sederhana, sampai yang paling indah, tergantung berapa besar anggaran yang dimiliki oleh swadaya warga setempat. Jika kesadarannya tinggi, maka bisa saja terkumpul sampai banyak sehingga bahan material yang digunakan pun disesuaikan dengan dana yang ada. Rumah kompos harus ada dinding untuk mencegah tiupan angin kencang dan tampiasan air hujan. Juga harus ada atap untuk mencegah sinar matahari secara langsung dan guyuran air hujan dari atas. Namun tetap harus ada ventilasi, agar ada sirkulasi udara mengingat proses pengomposan dilakukan sistim aerob atau sistim aliran terbuka (open windrows).

Rumah Kompos Sederhana

Prinsip rumah kompos adalah menampung sampah organik yang telah dipisahkan dari sampah non organik dan dikirim oleh Pak Sampah yang mengambil sampah organik dari setiap rumah di lingkungan setempat. Sampah ini di rumah kompos ditumpuk menjadi satu tumpukan. Setelah 2 hari, maka tumpukan ini digeser ke tempat tumpukan kedua. Tempat tumpukan pertama diisi oleh sampah baru yang dikirim oleh Pak Sampah hari itu. Begitu seterusnya sampai ada tujuh tumpukan, artinya sampah tumpukan pertama sudah berusia 14 hari di rumah kompos. Pada setiap tumpukan akan terjadi proses pengomposan sampah organik, karena adanya jutaan bakteri probiotik yang ada di dalam sampah organik. Untuk lebih meningkatkan kualitas dan mempercepat proses pengomposan bisa saja ditambahkan bakteri bio aktivator buatan ke tumpukan sampah organik. Pada saat terjadi proses pengomposan suhu sampah akan naik sampai 60 atau 70 derajat Celcius. Warna dari sampah semakin lama semakin hitam dan tidak berbau busuk. Sampah yang tadinya berukuran besar akan rapuh dan hancur.

Tumpukan ke tujuh sudah dapat dikategorikan sebagai pra kompos, namun harus dibiarkan dahulu di tempat terpisah selama 14 hari, agar suhu kompos menjadi suhu ruangan. Pada suhu ini semua bakteri akan tidak berfungsi, artinya aman untuk digunakan sebagai pupuk tanaman. Jika dalam kondisi suhu tinggi diberikan ke tanaman, maka bakteri akan memakan dan merusak tanaman tersebut. Tentunya ini hal yang tidak kita inginkan. Ingat, kompos yang dihasilkan memang tidak terlalu tinggi nilai ekonomisnya, namun kualitasnya sangat baik, karena menggunakan bahan baku yang bagus yaitu dari sisa makanan segar, seperti sisa sayuran, sisa buah, sisa ikan, tulang ayam dan sebagainya. Sebelum digunakan, hendaknya kompos diayak terlebih dahulu. Agar bagus tampilannya dan punya nilai ekonomis, maka dikemas di dalam kantong plastik dan diberi label “Kompos Super”.

Tumpukan Sampah dalam Proses Pengomposan

Bagaimana? Apakah penjelasan ini bisa bermanfaat? Sudah banyak yang menerapkan metoda ini, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Karawang, Tangerang, Bekasi, Depok. Silakan anda bersilaturahmi dengan warga satu lingkungan untuk mencoba menjalankan konsep membuat rumah kompos ini. Apa manfaatnya bagi pemulung? Sampah non organik dari warga yang sudah dipisahkan, ditempatkan di luar rumah kompos. Bagi pemulung akan sangat senang mengambil sampah plastik, botol, kaleng dan sebagainya yang sudah tidak tercampur dengan sampah organik yang biasanya berbau busuk, menjijikkan dan sumber penyakit. Lalu bagaimana dengan Pak Sampah? Jika memang dia memiliki banyak waktu, maka mengurusi sampak organik di rumah kompos adalah tambahan pekerjan yang pastinya akan ada nilai tambah bagi dirinya, karena akan menghasilkan pupuk organik yang berkualitas tinggi dan gratis. Di sekeliling rumah kompos bisa ditanami tanaman hias dan pohon buah-buahan yang diberi pupuk organik ini. Hasilnya wargalah yang menikmati. Selain keindahan lingkungan, tidak ada lagi sampah menumpuk berceceran dan berbau busuk, apalagi bisa memperoleh pupuk organik murah dan bibit tanaman murah. Inilah yang disebut moteda pengomposan berbasis komunitas.

Wow, betul-betul rumah kompos menjadi idaman bagi semua. Semoga.

By bersihdiriblogger

Di Musik Ada K-Pop di Lingkungan Ada T-Pop


Bingung baca judul di atas? Ya kan saat ini di musik sedang  ngetren boyband dan girlband yang mengikuti jejak saudara kita di Korea, maka disebutnya K-Pop. Nah di bidang lingkungan kita juga ada panutannya yaitu saudara kita dari Jepang namanya Mr. Koji Takakura atau biasa dipanggil Mr. Takakura saja. Mr.Takakura menciptakan alat untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos menggunakan wadah berupa keranjang. Metoda ini lantas dipatenkan dan dipopulerkan dengan nama Keranjang Takakura, makanya saya sebut istilahnya T-Pop atau Takakura Populer. Lho kenapa harus dipopulerkan? Ya karena sudah sejak tahun 2005 metoda ini ada di Indonesia, namun meski jaman sudah super canggih masih banyak orang yang belum tahu.

Keranjang ini akan berfungsi, jika kita telah melakukan pemilahan sampah sejak dini mulai pada saat kita menghasilkan sampah makanan, baik sisa nasi, sayuran, buah-buahan, ikan, daging, kulit telur dan sebagainya. Kegiatan ini akan sangat menarik bagi si kecil yang sedang haus ilmu mulai dari usia 4 tahun. Jika si kecil saja sudah terbiasa, apalagi anak yang sudah besar, mereka akan memahami manfaatnya dan akan memberi tahu kepada rekan-rekannya.

Karena masih banyak yang belum tahu, maka saya dongengin ya.

Keranjang Takakura merupakan alat pengomposan skala rumah tangga yang ditemukan Pusdakota bersama Pemerintah Kota Surabaya, Kitakyusu International Techno-cooperative Association dan Pemerintahan Kitakyusu Jepang pada tahun 2005. Keranjang ini dirakit dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita yang mampu mempercepat proses pembuatan kompos.

Satu keranjang standar dengan starter 8 kg dipakai oleh keluarga dengan jumlah total anggota keluarga sebanyak 7 orang. Sampah rumah tangga yang diolah di keranjang ini maksimal 1,5 kg per hari.

Cara Membuat Keranjang Takakura

Bahan Utama :

1.     Inokulan

2.     Keranjang

Bahan pembuat inokulan :

1.     15 takar sekam

2.     5 takar tanah

3.     5 takar dedak

4.     1 takar pupuk daun

5.     1 takar pupk kandang

6.     ¼ takar gula

7.     Air secukupnya

Campurkan semua bahan tersebut dimulai dari sekam, dedak dan dilanjutkan dengan tanah, pupuk daun dan pupuk kandang. Di tempat terpisah campurkan gula dengan air. Kemudian masukkan air perlahan ke dalam campuran tanah, aduk hingga rata. Kepal campuran tanah dengan tangan anda, jika campuran meneteskan air campuran melebihi batas kelembaban dan sebaliknya. Masukkan bahan inokulan ke dalam karung plastik. Tutup karung dan simpan di dalam tempat yang teduh dan tertutup, hindari dari cahaya matahari. Setelah seminggu diperam inokulan siap digunakan.

Perlengkapan Keranjang Takakura

Siapkan keranjang, masukkan kardus ke dalam keranjang sesuai ukuran. Letakkan satu set bantal sekam ke dalam keranjang kemudian masukkan inokulan ke dalam keranjang ¾ bagian, tutup dengan bantal sekam kedua berikutnya tutup keranjang dengan kain sebelum ditutup dengan plastik. Keranjang Takakura siap digunakan. Gali lubang di tengah media dengan menggunakan sekop, kemudian masukkan sampah organik yang telah dipotong kecil-kecil kemudian timbun dengan media.

Bagaimana sudah jelas atau makin bingung? Supaya tidak bingung, pesan saja yang sudah jadi di Pusdakota dengan alamat :

Jl. Rungkut Lor III No. 87, Surabaya

Telpon : (031) 8474325

Contact person : Mas Cahyo Suryanto

Harganya? Dua tahun lalu masih Rp. 100.000,-

Selamat ber”Takakura”ria dan meneriakkan yel-yel “T-Pop”, “T-Pop”!

 

By bersihdiriblogger

Tips Memilih Ikan Sehat untuk Menu Ikan Bakar di Tahun Baru


 

Di saat-saat menjelang malam pergantian tahun baru, biasanya anak-anak kita meminta kita menyiapkan menu masakan ikan bakar buatan sendiri. Namun tahukah anda bagaimana cara memilih ikan segar yang sehat, agar momen bahagia tidak berubah menjadi momen bencana karena keracunan?

Ini ada beberapa tips untuk memilih ikan dan ciri-ciri ikan segar :

1. Mata. Mata ikan yang segar nampak cembung dengan warna jernih dan terlihat masih segar.

2. Insang. Insang ikan yang segar akan berwarna merah dengan bau spesifik ikan dan tidak menunjukkan gejala pembusukan.

3. Lendir. Ikan yang segar akan memiliki lendir yang tipis dan transparan pada bagian tubuhnya.

4. Sisik. Ikan yang segar ditandai dengan sisik yang masih melekat kuat pada bagian tubuhnya.

5. Daging. Ikan yang segar jika ditekan bagian tubuhnya, maka bagian yang ditekan akan kembali ke posisi semula dalam waktu yang singkat.

6. Bau. Tercium bau yang spesifik (khas) ikan segar.

Cara mempertahankan kesegaran ikan :

Cara yang lazim digunakan untuk mempertahankan mutu ikan adalah dengan menjaga suhu ikan tetap dingin. Metode pendinginan yang umum digunakan adalah dengan es dan udara dingin. Ikan sebaiknya disimpan di dalam wadah yang berinsulasi atau coolbox dan diberi es dalam jumlah yang cukup. Selain itu, ikan juga dapat disimpan di dalam lemari es. Agar ikan tidak mengalami dehidrasi selama penyimpanan di lemari es, maka ikan sebaiknya dibungkus dalam plastik terlebih dahulu.

Beberapa tips untuk membedakan ikan berformalin dan yang tanpa formalin.

Tanpa formalin :

1. Warna cemerlang spesifik jenis, tekstur elastis jika ditekan dengan jari, bau segar spesifik jenis.

2. Sayatan daging cerah spesifik jenis, sedikit kemerahan sepanjang tulang belakang, isi perut utuh.

3. Warna insang merah cerah.

4. Bila dipegang lemas lunglai.

Ikan dengan formalin :

1. Warna pucat kusam, tekstur keras dan padat bila ditekan dengan jari, bau asam.

2. Sayatan daging pucat kusam, antar jaringan longgar, isi perut tidak utuh.

3. Warna insang pucat kusam agak keputihan.

4. Bila dipegang keras, kaku dan tegang.

Demikianlah beberapa tips, semoga anda bisa menikmati ikan bakar yang segar dan sehat bersama keluarga di malam Tahun Baru 2012.

Sumber : Brosur Manfaat Ikan Bagi Kesehatan dan Kecerdasan Bangsa, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi DI Yogyakarta, Tahun 2009.

By bersihdiriblogger

BALI, Surga duniakah?


Kata orang Bali indah

Kataku Bali idiiih

Kata orang Bali mempesona

Kataku Bali memprihatinkan

Kata orang Bali nyaman

Kataku Bali nyebelin

Kata orang Bali bersih

Kataku Bali benar-benar masih banyak yang harus “dibersihkan”.

Kata orang Bali surga

Kataku Bali  seperti surga tapi ………

Aku tidak mau mendengar omongan orang tentang Bali. Aku harus buktikan sendiri bagaimana sebenarnya Bali. Dua kali kunjunganku ke pulau ini. Awalnya memang terasa berbeda, karena di setiap sudut dan tepi jalan, setiap halaman rumah, toko, warung banyak terlihat dupa atau sesajen khas Bali. Ini yang memang tidak ada di tempat lain di Indonesia.

Tetapi, Bali bukan hanya itu. Banyak permasalahan yang sebenarnya tersimpan di balik keindahan pulau ini. Indahnya pemandangan pantai, danau, hutan, pegunungan, persawahan di sana, akan terhapus oleh pemandangan kala malam hari, khususnya di beberapa lokasi tertentu seperti Kuta, Sanur dan beberapa lokasi keramaian lain. Yang tampak oleh kita adalah banyaknya anak-anak muda kita yang nongkrong di depan kafe, swalayan, pinggir pantai yang penampilan dan aktifitasnya sudah tidak bisa dibedakan dengan turis asing, khususnya dari Barat.

 

Aku memang belum sempat memasuki salah satu tempat hiburan malam di sana. Tetapi kalau dilihat di luar saja mereka berani tampil seperti itu, bagaimana di dalam ruang yang gelap bergemerlapan lampu disko dan dipenuhi para muda-mudi?

Apakah Bali akan menjadi sekolah bagi anak-anak kita untuk menjadikan mereka generasi negatif? Beberapa hari mendatang di sana akan terjadi keramaian puncak menjelang hari Natal dan Tahun baru 2012. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi di sana. Anak yang kita didik selama sekian lama di sekolah dan rumah dengan pendidikan yang terbaik, begitu liburan sekolah ada program liburan ke Bali. Hendaknya para orang tua sadar, tanpa didampingi orang tua, anak-anak kita pasti akan tergoda oleh hal-hal yang negatif yang memang sangat menggoda serta menggiurkan.

Jika para pembaca tidak percaya, silakan buktikan sendiri. Namun apa yang aku tuangkan di sini bukanlah harga mati bagi Bali. Apabila ada niat baik bersama dari pemerintah pusat, daerah, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, kalangan praktisi pendidikan dan aparat keamanan setempat, tentunya hal ini masih bisa diubah.

Allah menganugerahi kita pulau yang sangat indah itu bukan untuk dijadikan surga dunia sesaat. Tinggal bagaimana kita manusia mengelolanya. Jangan salahkan turis asing yang berduyun-duyun datang membawa budaya mereka. Justru kita sebagai tuan rumah harus sudah punya aturan main yang kuat dan diperjuangkan oleh siapa pun yang ada di Bali. Keunikan khas masyarakat Bali kita jadikan sisi lain keindahan Indonesia dengan keaneka ragaman budayanya. Inilah yang kita jadikan daya tarik. Keindahan alam juga harus kita jaga dan kita kelola sebaik-baiknya untuk menunjukkan Indonesia punya alam lebih indah dari Hawai atau pantai California. Tentunya kebersihan menjadi perhatian utama kita. Di sinilah peran pemerintah setempat dan masyarakat sangat penting. Jika kita saja sebagai tuan rumah sudah acuh, bagaiman sang tamu?

Jadi kesimpulannya, Bali mau kita jadikan surga atau bukan, ya tergantung kita sendiri. Selamat berlibur…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By bersihdiriblogger

Tindakan Kita Dilindungi UU No. 32 Tahun 2009


Sahabat-sahabat di mana pun berada, khususnya para penggiat lingkungan. Apa yang kita lakukan selama ini sepertinya masih setengah-setengah. Kita masih tampak takut untuk melangkah, padahal apa pun yang kita lakukan jika itu untuk kepentingan bersama, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilindungi oleh UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun 2009.

Meski sudah 2 tahun diluncurkan, saya yakin masih banyak di antara kita yang belum membaca secara detil dan memahami isi UU tersebut. Jika kita kaji, maka isi Pasal 65 ayat 1 adalah, “Setiap orang berhak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia.” Juga isi Pasal 67 disebutkan bahwa, “Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.” Bahkan yang teramat penting bagi kita semua adalah isi Pasal 66 yang berbunyi, “Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.”

Ini menunjukkan, bahwa sebenarnya pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kita masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan melindungi dan mengelola lingkungan hidup di mana pun kita berada di bumi Indonesia ini (baca isi Pasal 70 Peran Masyarakat). Apalagi disebutkan pula dalam Pasal 45 ayat 1 bahwa Pemerintah, DPR RI serta Pemda dan DPRD wajib mengalokasikan anggaran yang memadai untuk membiayai salah satunya kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Jika pemerintah saat ini mendukung penuh keberadaan sebuah lembaga resmi untuk mengatasi masalah korupsi yang sudah menggurita. Mengapa permasalahan lingkungan hidup tidak diprioritaskan? Padahal jika sudah terlanjur terjadi bencana alam nasional, siapa yang sempat memikirkan hal-hal tentang korupsi? Atau kasus lain yang ramai biasanya pada bulan puasa. Ada organisasi yang berani menutup usaha-usaha hiburan maupun tempat-tempat yang dianggap terkait dengan prostitusi atau narkoba tanpa ada koordinasi dengan pemerintah setempat atau pun pihak aparat, karena merasa melakukan hal yang benar menurut keyakinannya. Dampaknya adalah kericuhan, keributan, perpecahan dan yang terparah hilangnya mata pencaharian.

Haruskah hal-hal yang kita anggap sesuatu yang tidak benar diperangi dengan kekerasan? Jika memang dasar hukumnya sudah jelas, mengapa kita perlu melakukan hal-hal semacam itu? Jika sudah diperingatkan secara halus, baik oleh pemerintah setempat, didukung oleh masyarakat dan organisasi lingkungan hidup, maka kita lihat bagaimana reaksi dari pemilik usaha yang diketahui mencemari lingkungan. Jika memang berniat baik, maka dia akan melakukan perbaikan sesuai langkah-langkah konstitusi.

Bagaimana jika mereka tetap pada aktifitasnya yang merusak lingkungan? Maka pemerintah dapat melakukan tindakan paksaan sesuai konstitusi (isi Pasal 76 ayat 2) didukung pula oleh masyarakat yang merasakan langsung dampak pencemaran tersebut melakukan gugatan ke pengadilan (isi Pasal 91 ayat 1). Sanksi bagi pelanggar UU ini mulai dari hukuman penjara minimal 3 tahun atau denda Rp. 3 miliar dan maksimal 15 tahun atau denda Rp. 15 miliar (isi Pasal 98 ayat 1 sampai 3). Untuk itu para pemilik usaha, khususnya yang bersinggungan dengan bahan barbahaya dan beracun (B3), hendaknya segera mengambil tindakan preventif, sebelum terjadinya dampak yang merugikan masyarakat.

Sahabat-sahabat, sekali lagi masa depan bumi Indonesia terletak di tangan kita yang ada saat ini. Generasi tua dan muda marilah bersama-sama bahu membahu bertungkus lumus mempertahankan kelestarian fungsi lingkungan hidup kita. Jika para pahlawan berani mengurbankan nyawanya demi direbutnya tanah air dari tangan penjajah. Mengapa kita tidak berani memperjuangkan hak hidup kita di tanah kita sendiri untuk dijauhkan dari perbuatan tangan-tangan kita sendiri yang keliru?

By bersihdiriblogger

Renungan dari Pengalaman Hidup


Apa pun yang saya tulis di blog ini adalah orisinil. Asli dari buah pemikiran pribadi dan dari hasil pengalaman 46 tahun berkelana di ranah Indonesia ini. Jika ada yang menilai tulisan-tulisan ini tidak ada artinya, ya monggo saja. Namun saya saat ini membayangkan kehidupan anak cucu saya sekian puluh tahun yang akan datang jika orang tuanya sudah tidak mendampingi mereka, apa yang terjadi??? Jika ada yang tidak peduli terhadap kehidupan anak cucunya ya silakan, tetapi apa iya?

Tahun 1993 sampai dengan 1998 saya pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang penjualan. Kebetulan yang saya tangani adalah sebuah peralatan penyaring limbah cair menjadi limbah padat. Saat itu yang menjadi pelanggan kami sebagian besar pabrik-pabrik, mulai dari pabrik makanan, farmasi, tekstil, elektronik, ban mobil, keramik, kertas, pengolahan logam termasuk baja, sampai pembangkit listrik tenaga uap, juga perhotelan.

Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan pabrik-pabrik itu termasuk bahan beracun dan berbahaya (B3). Pada saat itu, pemerintah sedang getol-getolnya membuat Undang-undang tentang Lingkungan Hidup, bahkan ada pemeringkatan industri berdasarkan kepedulian dan penanganan terhadap limbah mereka. Sehingga ada pabrik yang terpaksa membeli peralatan pengolahan limbah, karena usahanya mendapatkan peringkat merah yang artinya usahanya menghasilkan limbah yang mencemari lingkungan, baik berupa limbah padat, limbah cair maupun gas.

Dengan adanya penekanan dari pihak pemerintah, maka segenap industri berlomba-lomba berbelanja peralatan dari yang paling murah dengan kualitas seadanya sampai yang termahal dan tercanggih, semata-mata untuk mendapatkan peringkat yang aman, sehingga usahanya akan aman beroperasi. Tapi begitu kita mengalami krisis moneter dengan nilai kurs Rupiah yang anjlok serendah-rendahnya, maka mereka sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk membeli peralatan tersebut, karena mereka cenderung mencari akal bagaimana usahanya bisa tetap berjalan, bisa menggaji karyawan dengan lancar, tanpa timbulnya dampak yang lebih luas.

Seiring dengan itu, maka gema kepedulian terhadap penanganan limbah khususnya yang termasuk B3 sudah tidak terdengar lagi. Jarang sekali di media diberitakan adanya pabrik yang ketahuan mencemari sungai akibat pembuangan limbahnya yang sembarangan. Inilah yang sangat saya khawatirkan.

Ada sebuah lokasi di daerah Cileungsi, Jawa Barat, yang menjadi tempat penampungan limbah-limbah padat B3 dari berbagai pabrik dan industri. Usaha itu dulu dimiliki oleh seorang konglomerat. Di sana dibuat suatu lubang besar tempat penimbunan limbah B3 yang akan dipendam selama puluhan tahun dengan jaminan keamanan dampaknya terhadap lingkungan. Pertanyaannya, apakah benar-benar dijamin tidak ada dampak apa pun dari usaha semacam itu, mengingat apakah kontrol dari pihak pemerintah atau lembaga lingkungan terkait masih seketat dulu?

Jika melihat areanya yang begitu luas dan begitu banyak industri yang membuang limbahnya di sana dan sudah lebih dari 10 tahun pengoperasiannya, sejauh mana perkembangan kondisi lingkungan di daerah sekitarnya? Jika ada kebocoran dalam sistemnya dan ada perembesan yang sampai menyentuh air tanah di lokasi tersebut, apakah dampak yang akan terjadi? Mengingat lokasi itu letaknya juga lebih tinggi dari Jakarta dan ada di sebelah Selatan, adakah air sungai yang mengalir ke daerah Jabodetabek tercemar oleh limbah B3 tersebut?

Yang jelas usaha tersebut berjalan, karena ada pihak industri yang bersedia membayar jasa penyewaan lahan penampungan limbah dan jasa penanganan limbah mereka. Bagaimana jika pihak industri sudah tidak memiliki anggaran untuk membayar jasa itu? Bagaimana penanganan limbah mereka? Dibuang ke mana bahan berbahaya mereka? Siapa lagi yang akan menjadi korban?

Asumsi dan opini di atas memang masih perlu dikaji kebenaran dari kenyataan yang ada di lapangan, karena memang saya sendiri sudah tidak berkecimpung di bidang itu. Namun jika kita menengok bagaimana kita menangani sampah perumahan dan sampah pasar yang masih sangat sembarangan, bukan tidak mungkin opini saya di atas betul-betul terjadi.

Jadi, kembali saya mengajak siapa pun yang membaca tulisan ini, baik mereka yang memang bergerak di bidang lingkungan atau pun yang saat ini masih acuh, marilah kita renungkan hal-hal di atas. Bayangkan apa yang terjadi jika bumi kita yang diakui sangat indah ini, suatu saat kelak tenggelam akibat sampah dan limbah dari perbuatan kita sendiri, orang-orang yang menyatakan dirinya modern secara penampilan, namun masih primitif dari sisi pemikiran. Mari kita renungkan bersama.

By bersihdiriblogger

GERAKAN BERSIH DIRI DAN LINGKUNGAN


I. Pendahuluan

Mengikuti tren yang sedang marak di berbagai belahan dunia, maka di Indonesia pun banyak kegiatan di berbagai bidang yang mengarah kepada keramahan pada lingkungan. Tujuan dari kegiatan itu biasanya untuk membantu menyelamatkan bumi dari bahaya pencemaran udara, air dan darat, serta pencegahan perubahan iklim akibat berkurangnya lapisan ozon. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan masyarakat dari berbagai lapisan, mulai pelajar, mahasiswa, kelompok peduli lingkungan, perusahaan-perusahaan berlogo “Go Green” sampai kepada pemerintah, baik daerah maupun pusat.

Namun ada satu hal yang mungkin terlewatkan dari kegiatan tersebut. Siapa pun orangnya, pasti pernah suatu saat dalam hidupnya membuang sampah tidak pada tempatnya, entah di jalanan, di depan rumah, di sungai, di kebun, di hutan dan lainnya. Peristiwa itu mungkin sudah kita lupakan, namun dampak dari kealpaan itu masih akan membekas di bumi ini sampai turun temurun, apabila yang kita buang itu sesuatu yang tidak bisa hancur oleh proses di alam, seperti bungkus plastik, Styrofoam, besi berkarat, cairan kimia, dan bahan berbahaya lain.

Memberantas kebiasaan buruk membuang sampah tidak semudah membalikkan telapak tangan atau dengan cara seminar setiap hari. Dengan kata lain sama sulitnya dengan memberantas korupsi dari negeri kita ini atau menghapus prostitusi dari lingkungan tempat kita tinggal. Ini semua bisa dicegah dari dalam diri kita sendiri dari sejak usia dini. Bagaimana jika kita sudah dewasa dan sudah terlanjur memiliki kebiasaan buruk? Maka haruslah ada yang namanya kesadaran diri. Tanpa itu, maka mustahil menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Bayangkan, bahwa pencipta polutan terbesar bukanlah pelajar, bukanlah ibu-ibu rumah tangga, tetapi para pengusaha yang memiliki pabrik-pabrik, industri-industri, kilang-kilang, tambang-tambang yang melibatkan banyak pihak dari mulai pemerintah daerah setempat, pemilik perusahaan itu sendiri, para karyawan dan buruh, serta masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tersebut.

Berbicara tentang kepedulian terhadap lingkungan tidak bisa hanya melalui forum lembaga swadaya masyarakat, kelompok peduli lingkungan atau pun kelompok-kelompok informal non profit lainnya. Bahkan pemerintah sudah berupaya membentuk Kementrian Lingkungan Hidup pun tidak berdaya menghadapi arus semakin kotornya lingkungan hidup kita. Meskipun sudah ada Dinas Kebersihan dan Pekerjaan Umum di setiap Kotamadya dan Kabupaten, tetap saja mereka kewalahan mengatasi derasnya pertumbuhan sampah yang terjadi setiap hari.

Lalu tanggung jawab siapa mengatasi ini? Jika pemerintah sudah angkat tangan dan masyarakat acuh-acuh saja, maka kita akan mewariskan kepada generasi penerus suatu tempat hidup yang menjijikkan. Tegakah kita? Harus ada upaya 1000 kali lebih besar dari yang sudah pernah ada. Jangan sampai peristiwa tenggelamnya negeri Atlantis yang indah di bumi Nusantara terulang kembali selagi kita masih hidup. Untuk itu saya memberanikan diri untuk mencetuskan ide adanya “Gerakan Bersih Diri dan Lingkungan”.

II. Maksud dan Tujuan

Maksud dari Gerakan Bersih Diri dan Lingkungan adalah mengajak seluruh pribadi untuk sadar bahwa upaya penyelamatan bumi sebagai tempat hidup kita adalah tanggung jawab diri kita masing-masing, baik secara sendiri maupun bersama-sama.

Tujuan dari Gerakan Bersih Diri dan Lingkungan adalah terselamatkannya bumi Indonesia khususnya dan bumi secara keseluruhan pada umumnya sebagai tempat hidup satu-satunya yang akan kita wariskan kepada generasi penerus kita.

III. Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan secara menyeluruh di segenap pelosok negeri oleh setiap lapisan masyarakat, termasuk aparat pemerintah. Kegiatan ini dibagi berdasarkan kelompoknya yaitu kegiatan Bersih Diri dan kegiatan Bersih Lingkungan.

1. Kegiatan Bersih Diri

Kegiatan Bersih Diri lebih menekankan kepada kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kesadaran diri dalam melakukan upaya membantu mencegah terjadinya perusakan diri sendiri. Contoh dari kegiatan ini adalah :

– menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya secara benar dan teratur;

– membiasakan hidup bersih dalam keseharian, mulai dari sering cuci tangan menggunakan sabun yang ramah lingkungan, mandi rutin 2 kali sehari, buang air kecil dan besar di tempatnya;

– menggunakan air yang sudah pasti bersih dan sehat untuk kebutuhan minum, memasak, mandi dan cuci pakaian;

– menghindari atau menghentikan perbuatan-perbuatan yang sudah diuji dan terbukti membahayakan bagi tubuh dan alam, seperti merokok, minum minuman beralkohol, terbiasa mengkonsumsi obat-obatan kimia untuk penyakit ringan;

– menghindari penggunaan mesin/peralatan yang sudah pasti mencemari, seperti kendaraan bermotor yang knalpotnya bocor atau asapnya hitam, pemborosan penggunaan bahan bakar yang berdampak pada lingkungan seperti disel;

– mengingatkan teman/saudara di lingkungannya yang diketahui melakukan kegiatan yang mencemari lingkungan hidup.

2. Kegiatan Bersih Lingkungan

Kegiatan Bersih Lingkungan adalah kegiatan-kegiatan yang lebih menekankan kepada pencegahan terjadinya perbuatan yang sangat mencemari lingkungan, khususnya di lingkungan industri rumah tangga, industri kecil, industri menengah dan industri besar. Contoh kegiatan ini adalah :

– mengajak kepada para pemilik usaha untuk mencegah kegiatan yang sudah pasti mencemari lingkungan, seperti membuang limbah sembarangan, baik padat, cair maupun gas, menebang hutan secara liar, penimbunan sampah sembarangan;

– menegaskan kepada pemilik usaha untuk mengerahkan seluruh karyawan dan pekerja yang terlibat di dalam usaha tersebut untuk bersama-sama mencegah terjadinya pencemaran lingkungan di usahanya;

– mengajak masyarakat di lingkungan tempat usaha, agar mau mengingatkan pemilik usaha, jika terbukti terjadi kegiatan pencemaran lingkungan dan berani melaporkan kepada pihak berwajib untuk diproses secara hukum;

– mengajak pemerintah daerah setempat sampai ke tingkat RT dan RW untuk lebih peduli memperhatikan lingkungannya terhadap dampak dari kegiatan-kegiatan usaha yang ada di lokasi tersebut.

IV. Rincian Kegiatan

Gerakan Bersih Diri dan Lingkungan dibuat rinciannya sebagai berikut :

  1. Penyampaian kepada segenap anggota masyarakat akan perlunya kesadaran diri dalam mencegah kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada perusakan diri sendiri, pencemaran lingkungan dan perusakan alam.
  2. Pengkaderan kepada generasi penerus akan pentingnya menjaga kebersihan diri dan alam sebagai tempat kehidupan yang harus dilestarikan.
  3. Pengajakan kepada para pengusaha untuk mencegah pembuangan limbah pabrik/industri ke lingkungan sekitar, baik limbah padat, cair maupun gas.
  4. Pengajakan kepada aparat pemerintah sampai ke tingkat RT dan RW untuk bersama-sama mengawasi dan mencegah kegiatan-kegiatan yang berpotensi merusak diri sendiri dan mencemari lingkungan.
  5. Melakukan kunjungan bersama generasi penerus ke lokasi-lokasi pabrik/industri yang berpotensi mencemari lingkungan untuk melakukan upaya penyadaran diri akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan.
  6. Melakukan pencegahan digunakannya produk-produk dari kegiatan usaha/pabrik/industri yang sudah terbukti melakukan pencemaran terhadap lingkungan oleh masyarakat luas.
  7. Melakukan pengumuman secara terbuka melalui beberapa media nasional, baik surat kabar maupun televisi terhadap kegiatan-kegiatan usaha/pabrik/industri yang sudah terbukti melakukan pencemaran, namun setelah dilakukan peringatan tetap melaksanakan kegiatannya.
  8. Mengajak masyarakat untuk lebih memilih calon pemimpin di lingkungannya maupun di tingkat lebih tinggi yang benar-benar sudah bersih diri dan lingkungan.

V. Sumber Pendanaan

Untuk melaksanakan kegiatan ini secara utuh memang membutuhkan biaya besar. Di sinilah perlunya mengubah cara pandang dari para pemimpin, para pemilik perusahaan dan para pengambil kebijakan di seantero negeri, agar kepedulian terhadap kebersihan alam dan lingkungan hidup kita lebih diprioritaskan dibandingkan aspek-aspek kepentingan yang lain. Mengingat negara kita sudah menjadi langganan musibah banjir, tsunami, gempa bumi, longsor dan sebagainya, maka untuk menyelamatkannya harus ada political will yang pro kepada gerakan peduli kebersihan diri dan lingkungan ini

Peran serta dari setiap jenjang pemerintahan dalam mendanai program ini tanpa diminta sudah harus dialokasikan. Dari pihak swasta program CSR harus benar-benar dilaksanakan, khususnya untuk membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang peduli terhadap lingkungan. Dari masyarakat pun melalui inisiatif dari Ketua RT dan Ketua RW, harus mampu menggalang dana untuk membantu kegiatan-kegiatan yang peduli terhadap kebersihan lingkungan ini. Sumber dana dari masyarakat bisa didapat dari hasil gerakan pembuatan kompos dari sampah organik maupun an organik. Dari para generasi penerus yang ada di setiap jenjang sekolah dan kampus, melalui koordinasi dengan para guru dan dosen, juga akan digalang dana yang sumbernya dari kegiatan-kegiatan

VI. Kesimpulan

Sekali lagi ini semua hanyalah ajakan menuju perbaikan di segala sektor. Percuma kita menghamburkan APBN untuk membuat berbagai lembaga pencegah korupsi, kriminalitas dan lain-lain, jika dalam diri si pelaku belum ada jaminan kebersihan dirinya. Sia-sialah kita punya slogan back to nature, jika pada saat kita turun ke desa/kampung kita membawa sampah atau pengaruh yang negatif. Jadi keberhasilan dari kegiatan bersih diri dan lingkungan ini terletak pada seberapa besar rasa tanggung jawab kita kepada generasi penerus yang akan mewarisi bumi tempat kita berpijak hari ini.

By bersihdiriblogger